Jakarta-Singapura-Jepang-Washington DC


Berbagai hal baru dan menarik saya temukan dalam perjalanan kami (rombongan USAid) ke airport Dulles, Washington DC.

Changi Airport

Bandara internasional milik Singapura ini begitu besar, bersih dan juga terang/cerah. Sebagian besar lantainya dilapisi karpet sehingga ada calon penumpang yang dengan santainya duduk-duduk dan tiduran di lantai. Changi Airport dilangkapi dengan beberapa komputer untuk akses internet gratis, lumayan cepat untuk sekedar fb atau mail. Pembayaran di airport ini dapat menggunakan dolar US atau dolar Singapura, hanya perlu diingat bahwa usahakan untuk tidak menerima kembalian dalam bentuk koin Singapura karena tidak dapat ditukar di negara manapun. Waktu membayar hotel dengan USD, mereka tidak mau memberikan kembali dalam USD juga maunya dengan dollar Singapura. Harga hotel transit lumayan juga sekitar $50-an untuk 6 jam.

Changi Airport

Narita Airport

Di bandara ini kami hanya sebentar aja, itupun hampir ketinggalan pesawat. Hal yang aneh adalah ada petugas bandara yang tidak bisa bahasa Inggris??? Padahal ini adalah bandara Internasional, salah satu bandara paling sibuk di Asia.

Dulles Airport

Masuk bandara ini uda pada deg-degan duluan karna isu pemeriksaan ketat pada orang Indonesia dan beneran kami 4 orang laki-laki Indonesia semua masuk ruang tunggu untuk pemeriksaan lebih lanjut. Disana udah menunggu orang-orang dari Timur Tengah. Katanya kalau perempuan biasanya lolos dan teman kami yang cewek melenggang aja.

Disini pintu pemeriksaan untuk yang warga US dan yg bukan dibedakan. Warga US dapat perlakuan ‘lebih istimewa’. Mereka dengan hangat disambut oleh petugas. Saya jadi kepikiran kalau kami pulang digitukan juga gk ya🙂. Selama antrian pemeriksaan ada petugas yang mondar-mandir menanyakan : Apa yang bisa kami bantu?. Kalau ada yang perlu dibantu mereka langsung bantu bahkan mengisikan formulir segala.

Dari Jepang udara sudah mulai dingin tapi bisa ditahan dengan jaket biasa. Waktu tiba di Dulles, katanya suhu 1C. Dalam bandara udara dingin juga sehingga saya sempat berfikir : “wah kalau 1C seperti ini sih gak usah beli jaket tebal-tebal’. Begitu kami keluar dari bandara menuju mobil jemputan baru tiba2 jari tangan, hidung, kuping serasa beku mendadak. Dingin gak kira-kira!!. Ternyata 1C itu luar biasa dingin, kuping sakit sekali.

Perjalanan ke hotel hanya 15 menit aja, kata Olivia (yang menjemput kami) ini agak lama karena agak macet. Disini mobil berjalan perlahan sudah dikategorikan macet. Kalau mereka mengalami macet seperti di seperti di Jakarta dibilang apa ya?? Mungkin Super, Hiper atau Ultra Macet.

Tiba di hotel kami langsung disambut salju (itu salju ke 3 kalinya yang turun di Washington dan yang paling lebat). Daripada kami masuk kamar, semua memilih langsung keluar foto-foto🙂, maklumlah ‘villager’. Semua sakit hilang sebentar. Esoknya pada jalan-jalan liat-liat, awalnya senang tapi lama-lama tidak tahan dinginnya apalagi kalau angin berhembus, langsung diam ditempat.

Sewaktu kami diantar ke KBRI, rasanya senang sekali serasa berada dirumah sendiri. Orang-orang di KBRI sambutannya hangat sekali + diajak makan nasi (ini bagian yang paling enak). Esoknya setelah orientasi kami diajak tour singkat.

Beberapa hal menarik seputar Washington :

  1. Orang masih sering salah presepsi bahwa gedung yang ada kubahnya itu Gedung Putih. Padahal itu namanya Capitol. Gedung Putih itu hanya gedung warna putih berbentuk segi4.
  2. Di taman depan White House ada banyak tupai berkeliaran tapi kita dilarang pegang, katanya kalau digigit bisa terkena infeksi apa gitu.. (tidak ingat).
  3. Ada peraturan bahwa semua gedung di Washington tidak boleh lebih tinggi dari Capitol, jadi jangan berharap lihat gedung pencakar langit seperti di Jakarta.
  4. Di atas Capitol itu bukan tiang bendera tetapi patung Liberty yang menghadap ke Timur.
  5. Salah satu gedung yang paling ‘jelek’ adalah gedung FBI, karna hanya berupa kotak aneh tanpa ukiran apapun, mungkin maksudnya biar kelihatan seperti benteng.
  6. Monumen Perang Vietnam. Desainnya dimenangkan oleh anak SD, yang bertuliskan nama-nama korban perang vietnam. Pesannya adalah menang atau kalah tidaklah penting lagi karena sama-sama memakan korban ‘manusia’.

Bersama Staff KBRI Washington dan Staff AED

Gedung Putih

Capitol Building

Monas-nya Washington

Markas FBI

Di depan Dulles Airport untuk keberangkatan, ada tempat untuk mendaftarkan bagasi. Jadi kalau punya bagasi banyak tidak perlu repot-repot bawa ke dalam. Hanya saja ada biayanya sekitar $5. Kalau kita pinjam troli untuk bawa barang harus bayar $3. Di bandara sini kalau uda tahu caranya, ada mesin untuk cetak boarding pas, jadi kita gak perlu lama-lama antri. Orang-orang mengatakan bahwa Dulles adalah 1 dari 3 airport tersibuk di US, saya baru menyadarinya ketika pesawat mau lepas landas ke Albany. Di depan pesawat saya sudah ngantri 6 pesawat untuk berangkat !!!. Jadi setiap 4-5 menit pesawat paling depan berangkat, kemudian yang dibelakang maju ambil posisi take-off, persis kaya antri tiket. Di udara juga begitu, biasanya saya tidak pernah lihat pesawat lain, tapi sebentar-sebentar ada pesawat lain melintas di bawah pesawat saya padahal sudah agak jauh dari airport.

Mendekati Albany walaupun masih dalam pesawat, pakaian, topi, sarung tangan dll tidak berfungsi lagi. Dinginnya sudah menusuk.

Albany Airport

Suhu di Albany waktu tiba adalah -8C padahal matahari bersinar cerah! Saya dijemput teman orang Indonesia yang nikah ama bule. Di depan rumahnya salju hingga selutut! Bagian yang tidak enak adalah dinginnya luar biasa, bagian yang enak adalah bisa main seluncuran pakai papan, itu setelah dipinjamkan sepatu, sarung tangan dan jaket suaminya yang tuebal.

Cerita selanjutnya adalah tentang bagaimana memulai kuliah di SUNY.

4 responses to “Jakarta-Singapura-Jepang-Washington DC

    • He..he.. saya kira tidak ada yang tertarik jadi tidak pernah tulis kelanjutannya lagi. Oke, saya akan coba tulis pengalaman kuliah disini walaupun itu bersifat opini individu. Maksudnya, pengalaman saya tidak merepresentasikan pengalaman kuliah di US secara umum. Setiap orang punya cara sendiri untuk beradaptasi dan juga setiap kota juga kampus uniq dengan aturan dan masyarakat yg berbeda.

  1. wow,,,pengalaman luar biasa Pak…
    saya suka membaca cerita2 seperti ini, membuat saya selalu termotivasi untuk bisa ke luar negeri. Amin..
    God Bless You Pak..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s